9 tahun melewati hari demi hari dengan sebuah cerita cinta yang entah bagaimana aku menyebutnya. Mengenalnya hanya sebagai seorang teman sekelas di sebuah sekolah menengah pertama, yang bahkan mengucapkan "hai" saja tidak pernah terjadi. Entah bagaimana ceritanya aku bisa begitu tertariknya dengan pria kurus tinggi itu, dia bukan seorang yang populer pada saat itu, tidak juga seorang juara kelas. Yaa.. Aku bahkan tak pernah ingat bagaimana bisa aku begitu tertarik dengan pria itu. Setahun aku satu kelas dengannya, selama itu lah aku hanya bisa mengaguminya dari jauh, entah mengagumi apa. Sampai tiba akhirnya perpisahan akhir sekolah, aku yang akhirnya merelakan perpisahan itu. Yaaa perpisahan dengan pria kurus itu. Dan pada saat perpisahan itu pun aku tak pernah berbicara langsung dengannya. Yang aku ingat, aku memberikannya sebuah hiasan meja. Entah benda usang itu masih ada atau tidak hingga hari ini.
Sampai tibanya aku terpisah, karna aku harus melanjutkan sekolah menengah atas yang berbeda dengan pria itu. Dan pada masa itu aku bukanlah seperti remaja remaja lain, yang sudah memiliki ponsel. Aku memang belum butuh ponsel pada saat itu, yang artinya aku pun tak pernah tau bagaimana aku harus menghubungi pria itu jika nanti aku merindukannya. 2 tahun berlalu aku di sekolah itu, dan hampir melupakannya. Hingga akhirnya pada tahun ke 3 aku mendapatkan nomor ponselnya dari seorang teman. Aku senang sampai tak tau bagaimana mengungkapkannya. Singkat cerita, dia akhirnya mengatakan apa yang dia rasa (ini sambil buka mini diary) dia menyukaiku, tapi sayang semua terlambat. Saat itu aku pun telah bersama pria lain yang mencintaiku. Dan akhirnya pria itu menghilang, nomor ponselnya tak bisa di hubungi. Tapi aku tak pernah kehabisan akal untuk bisa mencarinya, aku bermain di dunia maya. Walaupun aku tak begitu yakin dia ada di dunia maya, saat itu masih populer penggunaan friendster. Aku menemukannya, aku add as friend, aku menunggu dia approve pertemananku. Dan aku akhirnya bisa berkomunikasi dengannya lagi, bertukar nomor ponsel. Saat itu aku sudah memulai kuliahku, dia mulai berkarir. Memang saat itu aku dan dia tidak begitu intens dalam berkomunikasi, aku terlalu sibuk dengan kuliahku yang cukup menguras otak dan tenaga. Sampai tiba akhirnya saat aku berada di semester ke 5 dalam kuliahku, aku dan dia hampir setiap hari berhubungan. Dan mulai muncul kembali kekagumanku dengan pria itu, kekaguman yang pernah ada saat aku sekelas dengannya. Aku masih tak pernah tau apa yang menarik darinya. Sampai tiba saat itu aku berkomitmen dengannya, iya aku tak pernah percaya dengan yang terjadi saat itu. Aku berpacaran dengan pria kurus itu, pria yang aku kagumi dari jaman aku masih menggunakan rok biru, saat aku masih berkuncir kuda. Aku sangat menyayangi pria itu. Tapi memang semua yang ada di dunia tak pernah abadi, hubunganku dengan pria itu pun tak seabadi yang aku harapkan. Hubunganku dengannya hanya seumur jagung, terlalu singkat untuk bisa aku ceritakan disini. Setelah hubungan itu berakhir, hanya sebentar aku bisa melupakannya dan aku yang mulai mencarinya kembali. Dan dengan mudah aku dapatkan, yaaa karna ponselnya tak pernah berubah. Aku kembali tertawa bersamanya tanpa ada status di antara kita. Aku bahagia ada di dekatnya walau tanpa status. Hingga malam pergantian tahun, dia inginkan hubungan ini berstatus kembali, tapi aku belum bisa. Aku takut dengan adanya status justru membuat aku semakin jauh dengannya. Dia memaklumi semua keputusanku. Beberapa minggu setelah itu, entah kenapa aku begitu marah dengannya. Iyaaa aku marah, kenapa dalam waktu sesingkat itu dia dengan mudahnya menemukan wanita lain yang entah saat itu sudah berstatus atau belum. Aku berusaha menghilang dari hidupnya. Dan entah kenapa memang aku terlalu mencintainya, saat aku akhirnya mengetahui statusnya yg kembali sendiri. Aku mencoba memaafkannya, aku kembali menerimanya ada dalam hidupku. Tapi memang semua yang aku jalani dengannya tak pernah berjalan semudah yang di bayangkan. Dia memutuskan untuk bekerja di luar jawa, awalnya hubungan kami masih baik, komunikasi masih berjalan dengan baik. Beberapa bulan kemudian kami sama sama menghilang.
Seperti yang aku katakan di awal tadi, entah cinta seperti apa ini. Aku dan pria itu bertemu kembali, tetap dengan perasaan yang tak pernah berubah. Hingga hari ini, aku masih mencintainya.
Tetap tanpa status
Bisa saja kami buat status, tapi kami inginkan akhir cerita seperti dongeng cinderela "dan mereka hidup bahagia selama lamanya" tapi kami tak bisa melakukannya.
Dan kami memutuskan untuk membiarkan rasa ini tetap ada, meski tanpa status.
Jika kamu membaca ini aku ingin katakan
"Terima kasih sudah membuatku tahu rasanya di cintai seorang pria baik. Terima kasih sudah pernah menjadikan aku bagian terindah dalam hidupmu. Terima kasih kamu masih mencintaiku hingga hari ini".
Aku ingin di cium untuk ke 2 kalinya dan terakhir kalinya sebelum akhirnya aku dan kamu memutuskan untuk memulai hari baru masing masing.
Akan jadi cerita cinta untuk anakku nanti
"Nabila Syelna Tirzani Putri"
Heii.. Boleh aku pakai nama ini untuk putriku nanti?? Atau kita berikan nama yang sama untuk putri kita masing masing?
Oke.. Ini sudah terlalu jauh.
Dan aku tetap SAYANG kamu bang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar